Patronasi, Jaringan, dan Tradisi Pernaskahan Islam Kerajaan Kotawaringin
Artikel ini membahas tentang 31 naskah koleksi Astana Mangkubumi Kotawaringin di Kalimantan Tengah, Indonesia. Penelitian ini menelisik peran patronasi politik dan keagamaan dalam aktivitas penyalinan naskah di wilayah tersebut, terutama pada masa kolonialisme Belanda abad ke-19. Koleksi naskah ini...
Saved in:
| In: | URI:https://journals.openedition.org/archipel, |
|---|---|
| Main Author: | |
| Format: | Article ou chapitre numérique |
| Language: | in |
| Published: |
Archipel
2025
|
| Subjects: | |
| Online Access: | Accès Université d'Orléans et IFPM Accès Université d'Orléans et IFPM |
| Summary: | Artikel ini membahas tentang 31 naskah koleksi Astana Mangkubumi Kotawaringin di Kalimantan Tengah, Indonesia. Penelitian ini menelisik peran patronasi politik dan keagamaan dalam aktivitas penyalinan naskah di wilayah tersebut, terutama pada masa kolonialisme Belanda abad ke-19. Koleksi naskah ini berasal dari warisan turun-temurun tiga penguasa Kotawaringin, mulai dari Pangeran Ratu Anom Kesuma Yudha (berkuasa pada 1761-1801), Pangeran Ratu Sultan Sulaiman Sa’idullah (1801-1825), hingga Pangeran Imanuddin yang bertakhta di Kotawaringin Lama (1817-1855). Telaah terhadap teks dan aspek-aspek kodikologis naskah-naskah tersebut menunjukkan tiga unsur dalam relasi sosial dan politik yang turut mempengaruhi tradisi pernaskahan di Kerajaan Kotawaringin, yakni faktor hubungan diplomatik dengan pihak berkuasa di kawasan Semenanjung Melayu seperti Terengganu dan Pulau Pinang, jaringan intelektual dengan ulama Ḥaramayn, dan intervensi pemerintah kolonial Belanda sebelum dan setelah Perang Banjar berkecamuk (1859-1906). |
|---|